Nasional, Aktual Daerah News.Id – 13/4/2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) di wilayah Indonesia untuk periode 14 hingga 20 April 2026.
Awan Cumulonimbus merupakan jenis awan hujan yang dikenal memiliki potensi besar memicu cuaca ekstrem, seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Dalam kondisi tertentu, awan ini juga dapat memicu terjadinya angin puting beliung.
BMKG menyebut, pada periode tersebut pertumbuhan awan CB diprediksi akan semakin meluas di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
BMKG mencatat beberapa wilayah dengan kategori Frequent (FRQ) atau potensi tinggi, yakni cakupan awan lebih dari 75 persen.
Wilayah yang masuk kategori ini meliputi:
– Laut Banda
– Laut Flores
– Sumatera Selatan
Kategori FRQ menunjukkan peluang terjadinya cuaca ekstrem lebih besar dibandingkan wilayah lainnya.
Selain kategori tinggi, BMKG juga mencatat pertumbuhan awan CB dengan kategori Occasional (OCNL) atau cakupan 50–75 persen, yang tersebar di berbagai wilayah, antara lain:
– Aceh
– Bengkulu
– Jambi
– Riau
– Sumatera Barat
– Sumatera Utara
– Sumatera Selatan
– Kepulauan Bangka Belitung
– Lampung
– Jawa Barat
– Jawa Tengah
– Daerah Istimewa Yogyakarta
– Kalimantan Barat
– Kalimantan Selatan
– Kalimantan Tengah
– Kalimantan Timur
– Kalimantan Utara
– Sulawesi Barat
– Sulawesi Selatan
– Sulawesi Tengah
– Sulawesi Tenggara
– Maluku
– Nusa Tenggara Timur
– Papua
– Papua Barat
– Papua Pegunungan
– Papua Tengah
– Papua Selatan
Sebaran tersebut menunjukkan bahwa potensi pertumbuhan awan CB cukup luas dan dapat terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia.
Kemudian, BMKG juga menyoroti potensi pertumbuhan awan CB di sejumlah perairan penting yang berpotensi memengaruhi aktivitas pelayaran dan penerbangan, di antaranya:
– Laut Jawa (barat, tengah, timur)
– Laut Maluku
– Laut Natuna Utara
– Laut Arafuru (barat, tengah, timur)
– Selat Makassar
– Selat Karimata
– Selat Malaka
– Samudra Hindia barat Sumatera dan selatan Jawa
– Samudra Pasifik utara Papua
Awan Cumulonimbus merupakan awan konvektif yang berkembang secara vertikal dan sering menjadi penyebab utama cuaca ekstrem. Dampak yang dapat ditimbulkan meliputi:
– Hujan lebat dalam waktu singkat
– Petir
– Angin kencang
– Potensi puting beliung
Dalam pemetaan prakiraan ini, BMKG membagi potensi pertumbuhan awan CB menjadi tiga kategori, yaitu:
– Isolated (ISOL): cakupan kurang dari 50 persen
– Occasional (OCNL): cakupan 50–75 persen
– Frequent (FRQ): cakupan lebih dari 75 persen
BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai berbagai risiko, seperti banjir akibat hujan lebat, pohon tumbang karena angin kencang, serta gangguan aktivitas transportasi darat, laut, dan udara.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat, terutama pada masa peralihan musim.
Masyarakat diminta menghindari aktivitas luar ruangan saat cuaca ekstrem berlangsung, serta rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.
RIZON SAPUTRA







