Disdikbud Mukomuko Perkuat Pelestarian Bahasa Daerah

Daerah5066 Dilihat

Mukomuko – 24/7/2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Mukomuko, terus mengintensifkan upaya pelestarian bahasa ibu melalui penerapan program muatan lokal bahasa daerah di satuan pendidikan, yang akan dilaksanakan secara lebih luas pada tahun 2025.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Mukomuko, Epi Mardiani, S.Pd, melalui Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar, Ramon Hosky, menjelaskan bahwa program ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam menjaga kelestarian bahasa ibu, sekaligus memperkuat identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat.

“Program ini tidak hanya bertujuan melestarikan bahasa ibu, tetapi juga menjadi sarana penguatan identitas budaya lokal dan memberikan bekal keterampilan serta pengetahuan kontekstual kepada peserta didik di lingkungan mereka masing-masing,” terang Ramon.

Upaya pelestarian bahasa daerah ini telah menunjukkan hasil positif. Dimana pada tahun 2024 lalu, kontingen asal Mukomuko berhasil meraih predikat terbaik dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di tingkat Provinsi, yang diwakili oleh siswa-siswi dari SMPN 20 Mukomuko.

Sebagai langkah lanjutan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mukomuko saat ini tengah menyelenggarakan bimbingan teknis (bimtek) bagi para guru untuk mempersiapkan pelaksanaan pembelajaran bahasa ibu di sekolah.

“Untuk materi pembelajaran akan difokuskan pada penggunaan Bahasa Melayu-Bengkulu, termasuk dialek lokal khas Mukomuko sebagai bagian dari upaya pelestarian dan penguatan identitas budaya daerah,” jelas Ramon.

Lebih lanjut, Ramon menambahkan bahwa inisiatif ini sejalan dengan misi nasional dalam melestarikan keberlangsungan lebih dari 700 bahasa ibu yang ada di Negara Republik Indonesia.

Untuk itu, di daerah Kabupaten Mukomuko, pelaksanaan program ini difokuskan pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai tahap awal penerapan pembelajaran bahasa ibu di lingkungan sekolah.

“Kami berharap, melalui penerapan pembelajaran di lingkungan sekolah, peserta didik dapat tumbuh dengan rasa bangga terhadap bahasa dan budaya daerahnya, sekaligus berperan aktif dalam upaya pelestarian bahasa-bahasa lokal agar tidak punah,” tutup Ramon Hosky.

 

RIZON SAPUTRA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *