Mukomuko – 21/11/2025, Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-7 tingkat Kabupaten Mukomuko tahun 2025 kembali menuai kritik keras, anggaran kegiatan yang mencapai Rp 750 juta, dan yang terpakai sekitar Rp 500 juta bersumber dari APBD tahun 2025 dinilai tidak berbanding lurus dengan kualitas fasilitas yang diterima para peserta sepanjang gelaran berlangsung selama tiga hari.
Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-7 tingkat Kabupaten Mukomuko tahun 2025, berlangsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 19 hingga 21 November 2025.
Kontingen Kecamatan Penarik menjadi salah satu yang paling dirugikan. Rahmad, official rombongan, mengungkapkan bahwa 43 anggota kontingennya hanya ditempatkan di empat kamar hotel. Lebih parah, satu kamar bahkan harus menampung hingga 16 orang.
“Kami hanya diberi empat kamar. Peserta sampai harus tidur ramai-ramai, 16 orang dalam satu kamar. Ini jauh dari standar kegiatan resmi kabupaten, apalagi dengan anggaran sebesar itu,” ujarnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai penataan anggaran akomodasi. Kontingen Kecamatan Penarik menilai panitia tidak memiliki perencanaan memadai untuk menjamin kenyamanan peserta.
Tidak hanya soal kamar, kejelasan biaya transportasi juga dipersoalkan. Kontingen mengaku hanya diberi informasi umum bahwa klaim dapat menggunakan struk BBM, tanpa batasan biaya maupun prosedur pencairan.
“Hingga penutupan pun tidak ada penjelasan konkret. Ini menunjukkan koordinasi panitia sangat lemah,” kata Rahmad.
Minimnya transparansi ini menambah daftar catatan buruk penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-7 tingkat Kabupaten Mukomuko di tahun 2025.
Adapun, dari Kecamatan Air Rami, kritik juga berdatangan. Dari total 35 peserta, kontingen hanya menerima 34 kotak nasi dalam setiap pembagian konsumsi. Selain jumlah yang tidak sesuai, kualitas makanan pun dianggap tidak layak untuk kebutuhan peserta lomba.
“Lauknya kecil dan pas-pasan. Untuk kegiatan sebesar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), tidak pantas konsumsi diberikan seperti ini,” ujar Robi, official Air Rami.
Meski penginapan mereka dinilai lebih baik dibanding Penarik, namun kekurangan konsumsi tetap dianggap sebagai bukti bahwa panitia gagal memastikan standar pelayanan dasar.
Sementara itu, salah satu panitia, Joko, menyebut peserta seharusnya mendapat tujuh kali jatah makan. Namun pernyataan tersebut tidak menjelaskan ketidaksesuaian jumlah konsumsi dan kualitas lauk yang dikeluhkan para kontingen.
MTQ ke-7 diikuti 15 kecamatan dengan sejumlah lokasi lomba di masjid dan aula pemerintahan. Namun, serangkaian keluhan mengenai penginapan, konsumsi hingga minimnya komunikasi panitia menimbulkan tanda tanya besar terkait efektivitas penggunaan anggaran.
Pelaksanaan yang dinilai tidak profesional ini memicu kritik publik yang mempertanyakan keseriusan panitia dalam mengelola kegiatan keagamaan berskala kabupaten, apalagi dengan dana yang tidak sedikit.
RIZON SAPUTRA







