Mukomuko – 24/9/2025, Angka kasus kekerasan seksual terhadap anak di daerah Kabupaten Mukomuko menunjukkan angka peningkatan pada tahun 2025.
Kondisi ini menimbulkan keprihatinan mendalam, mengingat anak seharusnya mendapatkan perlindungan dan rasa aman, bukan justru menjadi korban kejahatan. Fenomena ini sekaligus menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat langkah pencegahan serta perlindungan anak secara lebih serius.
Adapun, mayoritas pelaku yang sering terjadi justru berasal dari lingkungan terdekat korban, bahkan ada yang merupakan ayah kandung. Kondisi ini menambah keprihatinan banyak pihak, termasuk Lembaga Pengawal Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP-KPK) Mukomuko.
Ketua Lembaga Pengawal Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP-KPK) Kabupaten Mukomuko, M. Toha, menyampaikan bahwa kasus tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh elemen, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum. Menurutnya, hukuman maksimal bagi pelaku adalah langkah penting untuk memberi efek jera.
Berdasarkan data yang dihimpun, sepanjang Januari hingga September tahun 2025 tercatat sebanyak 12 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di Kabupaten Mukomuko. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2024 lalu yang mencatat 10 kasus sepanjang tahun penuh.
“Data tahun ini jelas mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. Lebih menyedihkan lagi, sebagian besar pelaku adalah orang-orang terdekat korban. Padahal, orang tua seharusnya menjadi pelindung, bukan justru pelaku,” ujarnya.
Kekerasan seksual terhadap anak memiliki dampak jangka panjang yang sangat berat, baik secara fisik, psikis, maupun sosial. Oleh karena itu, peran hakim dinilai sangat krusial dalam memberikan vonis setimpal kepada para predator anak.
“Ini masalah serius. Kami berharap aparat penegak hukum untuk tidak memberi celah bagi pelaku, dan berharap hakim menjatuhkan hukuman seberat-beratnya. Itu penting agar keadilan bagi korban dan keluarganya dapat sedikit terobati,” jelas M Toha.
Lebih lanjut, M Toha, juga meminta Pemerintah Kabupaten Mukomuko bersama stakeholder terkait untuk memperkuat langkah pencegahan. Edukasi melalui sosialisasi ke desa-desa maupun sekolah dianggap sangat penting untuk menekan laju kasus serupa.
“Apabila kasus ini belum bisa dihilangkan sepenuhnya, setidaknya jumlahnya harus dapat ditekan. Untuk itu, edukasi kepada masyarakat perlu digencarkan secara lebih masif, mengingat persoalan ini menjadi keprihatinan kita bersama,” tutup M Toha.
RIZON SAPUTRA







