Mukomuko Dilanda Wabah Septicemia Epizootica, Populasi Kerbau Terancam

Daerah4393 Dilihat

Mukomuko – 7/7/2025, Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko mengonfirmasi, terjadinya wabah penyakit Septicemia Epizootica (SE) yang menyerang populasi ternak kerbau di beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Mukomuko.

Akibat wabah penyakit Septicemia Epizootica (SE), ratusan ekor kerbau dilaporkan mati di beberapa wilayah di daerah Kabupaten Mukomuko, sementara lainnya masih dalam kondisi terjangkit.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Diana Nurwahyuni, menyebutkan bahwa angka kematian akibat wabah SE terus bertambah sejak pertama kali terdeteksi.

“Jumlah kematian ternak kerbau di Kecamatan Ipuh mencapai sekitar 500 ekor. Di Kecamatan Teramang Jaya, lebih dari 700 ekor dilaporkan mati. Sementara di Kecamatan Selagan Raya, baru 12 ekor yang sempat mendapat penanganan,” ujarnya.

Langkah vaksinasi terhadap kerbau yang terpapar SE tidak memungkinkan dilakukan pada tahap ini. Sebagai gantinya, Dinas Pertanian akan melakukan penanganan dengan pemberian (Disinfektan) untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

“Hingga saat ini, total ternak kerbau yang telah terjangkit penyakit SE di daerah Kabupaten Mukomuko tercatat mencapai 1.300 ekor,” jelas Diana.

Lebih lanjut, Diaana, juga berharap agar wabah penyakit Septicemia Epizootica (SE) ini, segera mereda dan kondisi peternakan di wilayah Kabupaten Mukomuko bisa kembali normal.

“Kami berharap para peternak bisa kembali merasa aman dan nyaman dalam beternak, tanpa dihantui kekhawatiran akan wabah penyakit seperti Septicemia Epizootica (SE),” tutup Diana Nurwahyuni.

Sebagai informasi, penyakit SE atau Septicemia Epizootica merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang hewan ternak, terutama kerbau dan sapi, dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat jika tidak segera ditangani.

Penyakit Septicemia Epizootica (SE), umumnya menyebar dengan cepat pada musim hujan, terutama ketika kelembapan udara tinggi dan sanitasi lingkungan kurang terjaga.

Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan dan penyebaran mikroorganisme penyebab penyakit, seperti bakteri, virus, atau jamur.

Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan lingkungan selama musim hujan, untuk mencegah penularan penyakit secara luas di lingkungan masyarakat.

 

RIZON SAPUTRA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *