Mukomuko – 22/7/2025, Setelah sempat dinyatakan hilang di laut selama lebih dari 24 jam, seorang nelayan asal Desa Pulau Makmur, Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko, akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat pada Selasa pagi 22 Juli 2025.
Korban, bernama Eka Sugianto, yang sebelumnya diketahui berangkat melaut seorang diri sejak Senin pagi 21 Juli 2025, sekitar pukul 05.30 WIB. Namun hingga malam harinya, ia tidak juga kembali ke daratan, memicu kekhawatiran keluarga dan warga setempat.
Setelah menerima laporan dari warga terkait seorang nelayan yang tidak kembali dari melaut sejak Senin pagi, 21 Juli 2025, tim gabungan segera melakukan upaya pencarian. Korban diketahui bernama Eka Sugianto, warga Desa Pulau Makmur, Kecamatan Ipuh, yang terakhir terlihat berangkat melaut seorang diri pada pukul 05.30 WIB.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pencarian langsung dikoordinasikan oleh tim gabungan yang terdiri dari aparat desa, unsur TNI-Polri, masyarakat setempat, serta para nelayan. Upaya pencarian berlangsung sejak Selasa pagi dengan menyisir wilayah laut sekitar Pantai Abrasi. Sebanyak tujuh perahu dikerahkan dalam misi penyelamatan ini.
Dalam waktu sekarang, tim gabungan akhirnya berhasil menemukan Korban, bernama Eka Sugianto, pada 22 Juli 2025, sekitar pukul 08:00 WIB. dalam kondisi lemah namun sadar, terapung di atas perahunya yang diduga mengalami kerusakan mesin.
Setelah berhasil dievakuasi, Eka langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis, dan kondisinya sekarang dilaporkan mulai membaik.
Kapolsek Ipuh, Iptu Hengky Hermansyah, SH, membenarkan bahwa pihaknya juga mengingatkan para nelayan untuk selalu memastikan kesiapan alat tangkap dan kondisi cuaca sebelum melaut.
“Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dan persiapan yang matang dalam aktivitas melaut, apalagi bagi nelayan yang melaut sendirian,” ujarnya.
Lebih lanjut, Iptu Hengky, juga mengingatkan bahwa persiapan yang matang, mulai dari kondisi fisik, peralatan navigasi, hingga kelayakan mesin perahu, merupakan langkah krusial yang tidak boleh diabaikan sebelum memulai aktivitas di laut.
“Melaut dengan sendirinya tanpa dukungan tim atau alat komunikasi yang memadai dapat meningkatkan risiko apabila terjadi gangguan teknis atau perubahan cuaca mendadak,” tambahnya.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan untuk meminimalisasi potensi bahaya di laut serta memastikan setiap nelayan dapat kembali dengan selamat ke daratan.
“Kami bersyukur korban berhasil ditemukan dengan keadaan selamat. Ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh nelayan agar lebih waspada dan memeriksa kelayakan perahu sebelum berangkat melaut,” tutup Iptu Hengky Hermansyah, SH.
RIZON SAPUTRA







