Wabah Penyakit Ngorok Serang Ternak Kerbau di Mukomuko, 20 Ekor Terinfeksi

Daerah4638 Dilihat

Mukomuko – 18/7/2025, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Mukomuko, mengonfirmasi adanya serangan penyakit ngorok atau Septicaemia Epizootica yang mulai merebak di wilayah Kecamatan Kota Mukomuko, tercatat 20 ekor kerbau dilaporkan terinfeksi penyakit menular SE pada 18 Juli 2025.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Fitriyani Ilyas, menyampaikan bahwa penyakit ngorok disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida dan dikenal sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian mendadak pada hewan ternak.

“Kasus ini pertama kali terdeteksi di Desa Pasar Sebelah, Kecamatan Kota Mukomuko, setelah sejumlah peternak melaporkan gejala klinis tidak normal pada kerbau mereka,” ujarnya.

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan dari Puskeswan Kota Mukomuko bersama Bidang Peternakan Dinas Pertanian langsung turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan.

“Dari hasil pengecekan, ditemukan 8 ekor kerbau di Desa Pasar Sebelah yang menunjukkan gejala khas penyakit ngorok, seperti demam tinggi, kesulitan bernapas, suara pernapasan abnormal, dan hilangnya nafsu makan,” jelas Fitriyani.

Tidak hanya itu, peningkatan kasus serupa juga terdeteksi di Kelurahan Bandar Ratu, Kecamatan Kota Mukomuko, Kabupaten Mukomuko, sebanyak 12 ekor ternak kerbau dilaporkan mengalami infeksi yang sama.

Lebih lanjut, Fitriyani, juga menghimbau kepada seluruh para peternak di wilayah Kabupaten Mukomuko agar tetap waspada dan segera melapor jika menemukan tanda-tanda penyakit pada ternaknya.

“Kami akan terus berupaya melakukan langkah-langkah pengendalian dan pengobatan, untuk melindungi populasi hewan ternak di wilayah Kabupaten Mukomuko,” tambahnya.

Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko terus melakukan pemantauan intensif serta langkah-langkah pencegahan, untuk memastikan wabah ini tidak meluas di ternak kerbau di daerah Kabupaten Mukomuko.

“Dihimbau kepada seluruh para peternak di wilayah Kabupaten Mukomuko untuk segera mengandangkan ternak yang menunjukkan gejala, agar memudahkan tim kesehatan hewan memberikan perawatan,” tutup Fitriyani Ilyas.

 

RIZON SAPUTRA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *