Mukomuko – 14/8/2025, Pemerintah Kabupaten Mukomuko terus mengintensifkan upaya penanganan stunting setelah hasil pengukuran status gizi balita pada Juni 2025 mencatat sebanyak 482 anak mengalami stunting.
Berdasarkan hasil pengukuran terhadap 10.673 balita di Kabupaten Mukomuko, tercatat prevalensi stunting sebesar 4,52 persen. Angka ini mencerminkan masih adanya tantangan serius dalam pemenuhan gizi anak usia dini di daerah Kabupaten Mukomuko.
Adapun, wilayah kerja Puskesmas Air Manjunto mencatat kasus tertinggi, dengan 70 balita mengalami stunting dari 785 yang diukur, atau sekitar 8,92 persen. Disusul oleh Lubuk Sanai dengan 71 kasus (7,80 persen), Lubuk Pinang 54 kasus (7,91 persen), dan Teras Terunjam 16 kasus (7,92 persen).
Sebaliknya, Dusun Baru V Koto menjadi wilayah dengan prevalensi stunting terendah. Hanya satu balita tercatat mengalami stunting dari 669 yang diperiksa, atau 0,15 persen. Wilayah Bantal juga menunjukkan capaian baik dengan tiga kasus dari 700 balita (0,43 persen).
Sub Koordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mukomuko, Meilan Kurniati, mengatakan bahwa data ini akan menjadi dasar dalam menetapkan langkah-langkah prioritas di lapangan.
“Wilayah dengan tingkat stunting yang tinggi akan menjadi prioritas intervensi. Kami akan melaksanakan edukasi gizi, memperketat pemantauan tumbuh kembang anak, serta mendorong perbaikan pola makan keluarga,” katanya.
Pemerintah daerah berkomitmen memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan posyandu dan puskesmas, guna menurunkan angka stunting hingga berada di bawah target nasional.
Kemudian, beberapa wilayah dengan jumlah balita cukup besar berhasil menekan prevalensi stunting ke angka relatif rendah. Seperti di wilayah Pondok Suguh, meskipun memeriksa 1.284 balita, hanya ditemukan 66 kasus (5,14 persen).
“Begitu pula di Penarik, dari 985 balita hanya 34 yang mengalami stunting (3,45 persen). Hal ini menunjukkan bahwa intervensi gizi yang tepat dapat berdampak signifikan, terlepas dari besarnya populasi,” jelas Meilan.
Lebih lanjut, Meilan, juga menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat di daerah Kabupaten Mukomuko untuk terlibat aktif dalam upaya menekan angka stunting, karena keberhasilan penanganan tidak hanya terletak pada sektor kesehatan semata.
“Stunting bukan sekadar isu medis, tetapi persoalan keberlanjutan generasi. Peran aktif pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat sangat krusial dalam mewujudkan anak-anak Mukomuko yang sehat dan cerdas,” tutup Meilan Kurniati.
RIZON SAPUTRA







