Mukomuko – 16/5/2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mukomuko, melaporkan ratusan warga di daerah Kabupaten Mukomuko diduga terjangkit tuberkulosis (TBC) dari periode Januari hingga April tahun 2025.
Selama periode Januari hingga April 2025, sebanyak 606 warga di Kabupaten Mukomuko tercatat sebagai terduga kasus tuberkulosis (TBC) berdasarkan laporan dari 17 Puskesmas di wilayah Kabupaten Mukomuko. Seluruh kasus ini masih berada dalam tahap observasi dan belum dapat dipastikan sebagai kasus positif TBC.
Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Mukomuko, Hamdan, mengungkapkan bahwa proses pemantauan dan pemeriksaan medis terhadap para suspek terus dilakukan secara menyeluruh.
“Kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjutan terhadap ratusan warga yang diduga terindikasi sebagai suspek TBC di daerah Kabupaten Mukomuko pada tahun 2025,” ungkapnya.
Adapun, berdasarkan hasil pemantauan Dinas Kesehatan Kabupaten Mukomuko, Kecamatan Kota Mukomuko tercatat sebagai salah satu wilayah dengan jumlah suspek tuberkulosis (TBC) terbanyak.
Menyikapi hal ini, Dinkes Mukomuko telah mengambil langkah-langkah cepat dan strategis sebagai upaya pencegahan serta pengendalian potensi penyebaran kasus di masyarakat.
Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah pemberian vaksin BCG (Bacille Calmette-Guerin) kepada bayi berusia 2 bulan. Program ini telah diterapkan secara merata di seluruh Puskesmas di Kabupaten Mukomuko.
“Pemberian vaksin BCG merupakan bagian dari upaya pencegahan dini penyebaran TBC, khususnya pada kelompok rentan seperti bayi,” jelas Hamdan.
Sebagai informasi, pada tahun 2024 lalu, Dinkes Kabupaten Mukomuko mencatat 136 kasus TBC positif, dan hingga sekarang, seluruh pasien tersebut masih menjalani pengobatan intensif.
Lebih lanjut, Hamdan, juga mengimbau kepada seluruh masyarakat di daerah Kabupaten Mukomuko, agar aktif menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
“Dihimbau kepada seluruh masyarakat terutama di daerah Kabupaten Mukomuko untuk terus menjaga kebersihan diri dan lingkungan, karena pencegahan terbaik dimulai dari kesadaran bersama,” pungkasnya.
RIZON SAPUTRA







