Kemenkeu Respons Tuntutan Mahasiswa Soal Pemborosan APBN

Nasional5558 Dilihat

Nasional, Aktual Daerah News – 15/6/2026, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia, menanggapi tuntutan mahasiswa yang meminta pemerintah menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pemerintah menyatakan saat ini berbagai program prioritas sedang dievaluasi agar pelaksanaannya lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro, mengatakan pemerintah menghargai berbagai masukan yang disampaikan mahasiswa maupun masyarakat.

“Kami berterima kasih atas masukan dan aspirasi yang disampaikan mahasiswa dan masyarakat,” katanya.

Pemerintah juga terus melakukan perbaikan tata kelola anggaran serta bekerja sama dengan aparat pengawasan dan aparat penegak hukum untuk mengevaluasi pelaksanaan berbagai program prioritas nasional.

Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia bersama sejumlah elemen mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa bertajuk Menuju Indonesia Bangkrut. Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah.

Tuntutan tersebut meliputi penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, penghentian praktik militerisme di ranah sipil, serta meminta Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan dalam kebijakan pemerintah.

Di sisi lain, Kementerian Keuangan mencatat APBN hingga Mei 2026 mengalami defisit sebesar Rp 180,4 triliun atau setara 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat Rp 20,9 triliun atau 0,09 persen dari PDB.

Meski demikian, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa posisi defisit tersebut masih berada di bawah target defisit APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.

“Sampai Mei 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp 1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi tersebut setara 37,6 persen dari target pendapatan negara tahun 2026 sebesar Rp 3.153 triliun,” ujarnya.

Sementara itu, belanja negara mencapai Rp 1.365,4 triliun atau meningkat 34,4 persen dibanding Mei 2025. Jumlah tersebut setara 35,5 persen dari target belanja negara tahun ini yang mencapai Rp 3.842 triliun

Karena belanja negara lebih besar dibanding pendapatan, APBN mengalami defisit. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, realisasi pembiayaan anggaran hingga Mei 2026 tercatat sebesar Rp 379,4 triliun, meningkat 16,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

 

 

RIZON SAPUTRA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *